Suasana di arena kematian memuncak, bagaikan lautan hiruk-pikuk yang tak pernah surut. Sorak sorai penonton menggema di seantero tempat duduk, gelombang suara penuh gairah yang memuja satu nama, Grakkon. Mereka haus akan tontonan, ingin menyaksikan lebih banyak penderitaan dan kekejaman dari jagoan mereka.

"Bunuh dia, Grakkon! Robek tubuhnya!" teriak seseorang dengan mata melotot, napas memburu karena terlalu tenggelam dalam adrenalin.

"Jangan bunuh dulu! Lumpuhkan saja, biar dia bisa jadi milikku malam ini!" seru yang lain, tawanya pecah di antara suara riuh yang saling bersahutan.

Komentar-komentar itu bercampur, menjijikkan dan liar. Namun Leena tidak terpengaruh. Pandangannya tetap tenang, tubuhnya berdiri tegap di tengah arena seolah suara-suara itu hanyalah angin lalu. Di dalam dirinya, kekuatan mengalir deras. Tubuhnya berubah, lebih ringan, lebih cepat, lebih tajam.

Leena memejamkan matanya dan mengingat teori tentang mengendalikan kultivasi yang diajarkan ayahnya Ling Mei, Ling Juan. Dia bisa merasakan perubahan pada tubuhnya dan merasakan sensasi sebagai seorang grandmaster tingkat awal

"Apakah aku akan menghadapi petir kesengsaraan disini?" Batinnya.

Leena melepaskan kepekaannya untuk merasakan perubahan di luar arena, namun tidak merasakan adanya anomali seperti biasanya saat seseorang naik tingkat ke ranah grandmaster, membuatnya bernapas lega. Meski tidak sekuat petir kesengsaraan saat naik ke ranah immortal, namun itu cukup untuk membahayakan nyawa para penonton.

"Sebaiknya aku fokus menghadapi makhluk hijau satu ini. Kekuatannya tidak bisa di remehkan." Batin Leena. Lalu dia mengingat sebuah gerakan jurus yang pernah diajarkan teorinya dan dapat dia gunakan ketika berada diranah grandmaster.

Grakkon yang berada tak jauh di hadapannya mendengus, tak sabar menunggu. Dengan geram, makhluk hijau raksasa itu melompat tinggi ke udara. Tubuhnya yang besar meluncur seperti meteor, kedua tangannya terkepal erat, siap menghantam kepala Leena dari atas.

Penonton berseru serempak, sebagian bahkan sudah membayangkan darah berceceran, tubuh mungil itu remuk di bawah kekuatan brutal Grakkon.

Namun tepat sebelum tinju itu menghantam, Leena menggeser satu kaki, hanya sedikit. Gerakannya seperti tarian ringan, dan dalam sekejap, tubuhnya sudah berpindah dari titik serangan.

Tinju Grakkon menghantam tanah, menciptakan lubang besar dan semburan debu. Tapi tubuh Leena tetap utuh, berdiri anggun dengan rambut berkibar pelan.

Peningkatan kekuatannya luar biasa. Gerakannya lebih cepat dari sebelumnya, lebih akurat. Tak hanya kecepatannya, tubuhnya kini lebih lentur dan responsif.

Grakkon menggeram. Nafasnya memburu. Ia menerjang lagi, mencoba menangkap dan membanting Leena seperti sebelumnya. Tapi Leena sudah siap. Matanya bersinar tenang, dan kali ini dia tidak akan membiarkan tubuhnya disentuh begitu saja.

Leena mengatur napas, tubuhnya berdiri tegap di tengah arena. Sorot matanya tajam menatap Grakkon yang tengah menggeram, kedua tangan raksasa itu siap menghancurkan apapun yang ada di hadapannya. Namun Leena tidak mundur.

Dengan gerakan halus, ia mengangkat pedangnya setinggi dada. Ujung bilahnya bergetar pelan, memantulkan kilau merah yang perlahan berubah menjadi nyala jingga menyala-nyala, seperti bara yang dihembus angin dari dunia atas.

“Heavenflame Petal Dance…” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan angin gunung.

Angin di sekeliling Leena mulai berputar. Tanah di bawah kakinya retak-retak, aura qi api yang berpendar merah keemasan menyelimuti tubuhnya. Dalam sekejap, ia mulai berputar ringan, langkah-langkahnya seperti penari yang menari di atas kelopak bunga yang tidak terlihat. Setiap putaran menghasilkan bayangan pedang berbentuk kelopak api yang mengambang, membentuk pusaran yang mengelilingi tubuhnya dalam lingkaran sempurna.

Penonton mulai terdiam, kagum dan terpana melihat keindahan gerakan yang belum pernah mereka saksikan di arena itu.

“Apa itu?” bisik salah satu penonton.

“Itu... teknologi? Proyeksi hologram?” tanya yang lain, tak percaya pada apa yang mereka lihat.

“Aku belum pernah lihat efek visual seperti itu, bahkan di pertarungan tingkat atas! Tapi apa gunanya efek visual seperti itu?” seru yang lain lagi.

Namun sebelum keraguan mereka terjawab, Leena melompat tinggi ke udara. Pedangnya terangkat, menyerap pusaran kelopak api di sekelilingnya. Lalu, dengan satu serangan mematikan, ia menebas ke bawah.

“SEKARANG!” serunya.

Tebasan itu membelah udara dengan suara menggelegar. Kelopak-kelopak api yang berputar melesat bersama tebasannya, seperti badai bunga api yang menggulung ke arah Grakkon. Dan…

BOOOMM!

Ledakan keras mengguncang arena. Tanah retak, kawah besar terbentuk tepat di tempat Grakkon berdiri. Debu membumbung tinggi menutupi pandangan.

Penonton menahan napas, beberapa melompat dari kursinya.

"Grakkon... dia kena seranganannya!"

"Itu... itu tadi apa?!"

"Grakkon kalah?!"

"Aku tak percaya! Mana mungkin monster sehebat itu dikalahkan hanya dengan satu serangan?!"

"Ini pasti ada yang tak beres! Pertarungan direkayasa lagi!"

"Aku bertaruh untuk Grakkon! Kalau dia kalah, kubakar arena ini!"

"Siapa itu perempuan sialan? Tak masuk akal! Tak masuk akal!"

Sorakan berubah menjadi hujatan. Penonton mulai gelisah, beberapa bahkan memukul pagar pembatas, memaki-maki wasit yang berdiri di sisi arena.

"Aku datang untuk melihat Grakkon menghancurkan lawan! Bukan jadi tontonan efek spesial murahan seperti itu!"

Namun begitu debu mulai mengendap dan sosok Grakkon tampak masih berdiri, kekacauan itu terhenti sejenak. Wajah para penonton berubah. Teriakan frustrasi berubah jadi decak kagum dan sorak semangat yang kembali menggema.

Dan Leena, yang berdiri dengan napas tertahan, menatap tak percaya, serangannya tak memberi dampak berarti.

Leena menatap ke depan dengan mata melebar. Debu belum sepenuhnya hilang, namun sosok besar itu kembali terlihat, masih berdiri tegak di tengah kawah, tanpa luka, tanpa goyah sedikit pun.

“…Mustahil,” gumamnya pelan. “Padahal aku sudah menyalurkan separuh kekuatanku ke dalam jurus itu… bagaimana bisa tidak meninggalkan bekas sedikit pun?”

Ia mencoba menenangkan napas, tetapi detak jantungnya tetap cepat. Meskipun dia sengaja menahan sisa kekuatannya untuk menghemat qi spiritual, jurus Heavenflame Petal Dance seharusnya cukup untuk merobek pertahanan siapa pun, kecuali makhluk ini.

Grakkon mengangkat kepalanya, kedua mata merah menyala lebih terang dari sebelumnya. Tubuhnya yang raksasa tampak bergetar, otot-otot menggembung, dan dari mulutnya terdengar raungan menggelegar.

Tiba-tiba, tinjunya menghantam tanah.

“RRRAAAHHH!!!”

Ledakan keras menyertai pukulan itu. Arena berguncang hebat, tanah terangkat, pecahan batu beterbangan ke segala arah. Getaran menjalar sampai mendekat ke tribun penonton, membuat mereka menjerit dan bersandar panik. Namun teknologi super canggih yang melingkupi arena mencegah kerusakan melewati arena pertarungan.

Lalu, tanpa aba-aba, Grakkon melesat maju. Tubuh besar itu meluncur seperti meriam, kedua tangannya terangkat tinggi, siap menghantam tubuh Leena yang tampak diam di tempat.

Namun dalam sekejap, langkah Leena bergeser ke samping, ringan dan cepat, nyaris tak terlihat.

Pukulan Grakkon menghantam udara kosong dan menghancurkan tanah di belakangnya menjadi cekungan besar. Debu kembali mengepul.

Leena berdiri beberapa langkah dari serangan itu, mata tajamnya mengamati monster tersebut dengan penuh siaga.

“Aku tak bisa menahan lagi. Kalau jurus itu tak mempan... maka aku harus mencari celah dengan cara lain.”

Ruang arena mendadak gaduh saat pintu besar di sisi barat terbuka perlahan. Dentuman berat mengiringi langkah empat sosok asing yang melangkah masuk, masing-masing memancarkan aura dominasi yang segera menggetarkan suasana. Sorotan lampu otomatis mengikuti pergerakan mereka, menyorot setiap lekuk tubuh yang terlihat seperti mesin perang.

Sorak sorai penonton sontak berubah jadi riuh tak menentu. Ada yang bersorak kegirangan, ada pula yang terdiam dalam kebingungan. Bahkan Grakkon yang tengah bersiap menyerang, dan Leena yang waspada, langsung menghentikan gerakan mereka.

Di atas panggung komentator, pembawa acara menoleh saat seorang wanita berwajah dingin kembali mendekatinya. Wanita yang sebelumnya telah membisikkan rencana rahasia pimpinan itu kini kembali menyampaikan informasi baru. Pembawa acara mendengarkan sejenak, wajahnya menunjukkan keterkejutan sebelum ia berdiri dan berbicara lantang ke arah mikrofon.

“Kita baru saja menerima kabar luar biasa. Demi memeriahkan pertarungan malam ini dan menambah intensitas pertempuran, empat petarung elit peringkat atas akan bergabung bersama Grakkon dalam arena.”

Riuh penonton langsung meledak, kali ini bercampur antara histeria dan keraguan.

“Apa? Lima lawan satu?”

“Kenapa semua petarung top dikerahkan hanya untuk melawan satu perempuan?”

“Ini pertunjukan atau pembantaian?”

